Berdamai dengan hati
Hari ini benar-benar hari yang melelahkan dan menguras energy saya. Menguras energy bukan dalam arti saya melakukan pekerjaan fisik yang berat tetapi justru psikis saya yang amburadul sehingga membuat saya sangat lelah.
Pagi hari seperti biasa saya bangun pk 04.30 melakukan berbagai aktivitas harian, tapi hari itu ada yang special anak saya yang tingkat akhir di Sekolah Dasar praktek menari yang sebenarnya jika di fikir dengan logika tidak masuk akal dan sedikit “gila”, disekolah tidak ada pelajaran menari dan anak-anak tidak pernah dilatih menari untuk ujian tapi anak-anak diminta ujian menari dengan membuat sendiri gerak tarinya, awalnya si bungsu ingin menari Bali seperti kakaknya, kakaknya yang saya tugasi mengajari adiknya mengeluh adiknya badannya kaku tidak bisa mengikuti gerakannya maklum kalau sang kakak cukup feminim dan suka hal yang berbau wanita seperti memasak, menari, sang adik justru kebalikannya lebih suka olahraga dari mulai main bola sepak, bulutangkis, basket dll. Sehari menjelang sang kakak berangkat karyawisata ke luar kota si adik belum juga bisa menguasai gerakan tari Bali yang diminta bahkan gerakan dasar padahal ujian tinggal tiga hari lagi, terpaksa saya ambil alih tari Bali diganti tari melayu dengan iringan lagu cindainya Siti nurhaliza alhasil saya menjadi koreografer tari dadakan, hal ini saja membuat saya tarik urat dengan bungsu saya ini, betapa tidak bungsu saya tetap ngotot minta tari Bali bahkan sampai menangis sudah saya jelaskan bahwa kakak akan pergi keluar kota mama tidak bisa mengajari Ara tari Bali gerakannya susah, anak saya tetap bertahan tidak mau, Alhamdulillah saya sudah mengikuti pelatihan Hyno heart parentingya pak Alpiyanto untuk menggunakan hati dan minta petujuk Allah dalam mengasuh anak hal inilah yang coba saya terapkan ke anak saya, Alhamdulillah menghadapi si bungsu ini saya jadi lebih sabar hati yang sudah panas karena kesal jerih payah saya jadi koreografer amatiran tidak dihargai bisa lebih sabar tangan yang biasanya suka jalan mencubit jika saya sudah benar-benar kesal saya pakai untuk memeluk tapi yang namanya ujian kok ya belum beres bungsu saya tidak mempan dengan elusan, pelukan dan bujukan
Akhirnya saya menyerah saya biarkan saja ia ngambek, saya nonton TV, entah kenapa tiba-tiba ada inspirasi untuk menawari anak saya tersebut nasi goreng, saya suruh sepupunya untuk menawari o lalala rupanya masih marah pada saya sang sepupu lapor Ara gak mau mah katanya gak perlu aku gak butuh aku gak lapar, mendengar jawaban tersebut Alhamdulillah saya masih bisa tertawa dan menyuruh si sepupu untuk membelikan saya ketoprak ketika saya sedang makan ketoprak si bungsu masuk kamar dan bilang sambil malu-malu mah aku mau ketoprak hehehe saya menanggapi dengan oke beli gi sana, alhasil sambil makan ketoprak anak saya ini bilang kalau sudah makan ketoprak ia mau latihan tari Cindai Alhamdulillah senangnya hati saya. Akhirnya malam itu sampai kira-kira jam 12 anak saya lenggak lenggok menirukan gerakan saya soi koreogrefer dadakan berlatih tari cindai dengan senyum di wajahnya.
Awalnya saya berfikir urusan tari-tarian ini sudah beres ternyata astagfirullah hal Adzim ada lagi yang menguji kesabaran saya, anak saya menginformasikan pada saya mah kata pak guru besok narinya harus pakai pakaian tari kalau mau sewa bisa sama pak guru, Ya Allah dalam hati saya ngobyek amat sih ni guru (menghakimi padahal engga boleh )
Alhamdulillah di rumah ada baju kurung jadi saya fikir okelah besok pakai baju kurung saja Alhamdulillah anak saya oke-oke saja, beda dengan si sepupu yang juga menari bersama anak saya yang sibuk mencoba baju kurung semua orang yang ada dalam rumah dari mulai baju kurung bundanya, budenya sampai baju kurung almarhum neneknya
Ternyata pagi hari kegiatan mendandani anak-anak sudah membuat tegangan emosi tinggi, kakak saya yang saya tugasi memake up wajah anak-anak ribut karena anak saya tidak mau memakai eye liner dibawah mata dengan alasan takut matanya “kecolok”, sementara kakak saya ngotot mata anak saya kecil jadi biar kelihatan “belo” saya yang sedang memasang konde di kepala anak kakak saya terpaksa turun tangan menengahi dulu putusannya tidak usah pakai eye liner, setelah acara berdandan selesai anak saya ngambek ngotot minta saya menemani dia menjalani ujian padahal rumah sudah seperti kapal pecah dengan barang-barang bekas anak-anak dandan yang berserakan tidak karuan, terpaksalah saya ganti baju berangkat menemani anak saya dengan hati yang dongkol.
Baru sampai halaman sekolah ujian datang lagi masyaAllah seorang ibu yang anaknya sekelas dengan anak saya datang lagi menagih uang masak yang jumlahnya puluhan ribu, saya Tanya masak apa untuk apa, dan siapa yang masak, astagfirullahhal Adzim satu lagi “kegilaan” (Menghakimi lagi deh maafkan saya ya Allah) ujian praktek masak pelajaran PLBJ (Pendidikan kehidupan lingkungan Jakarta), secara otomatis saya mengungkapkan kegalauan saya pada ibu ini “ gila ya kapan anak-anak diajarin masak kok tiba-tiba ada ujian masak”, rupanya ibu ini menangkapnya berbeda dia menganggap saya tidak percaya dengan dia dan mengatakan yang masak ibu-ibunya gak mungkin anak-anak di suruh masak kalau ibu tidak percaya besok datang ke rumah si fulan astagf salah lagi saya, saya diam saja menanggapi emosi si ibu dan memberikan uang seperti yang diminta, baru saja saya berjalan menghampiri anak saya datang lagi seorang ibu yang menagih bahwa anak saya untuk acara perpisahan baru bayar dua ratus ribu masih kurang duaratus ribu karena hari itu saya tidak membawa uang banyak saya jawab minggu depan saya bayar Alhamdulillah si ibu mnegerti, tiba-tiba lagi datang lagi seorang ibu yang berbeda dengan wajah yang merah padam menahan marah menghampiri saya dan mengatakan bu kata ibu-ibu yang lain anak ibu besok masak aja sendiri terus bawa sendiri nih uangnya dikembalikan, melihat kondisi tersebut saya berusaha menanggapi dengan berusaha keras untuk sabar padahal dalam hati rasanya sudah mau meledak saya menerima uang yang dikembalikan dengan mengatakan oh gitu oke tanpa banyak bicara saya tinggalkan ibu itu yang sepertinya siap tempur dengan saya karena saya sadar kalau lama saya dengan ibu itu saya bisa terlibat pertengkaran astagfirullah. Saya melihat ibu-ibu yang sekelas dengan anak saya bergerombol memandang sinis saya tapi saya berusaha berprasangka baik padahal dalam hati ingin rasanya mendekati ibu-ibu ini dan menanyakan ada apa ? apa saya salah kalau mengemukakan sedikit pendapat.
Tiba-tiba anak saya menghampiri saya dengan wajah sedih karena si ibu yang marah ini rupanya menyuruh anaknya untuk menginformasikan kepada anak saya dan sepupunya bahwa mereka sudah dikeluarkan dari kelompok dan disuruh masak sendiri astagfirullahhal adzim ada-ada saja, anak saya meneglu khawatir tidak lulus ujian ( Ya Allah apa ya yang sudah dicekoki si guru pada anak saya karena bawaanya anak saya sedikit-sedikit takut tidak lulus Astagf nuduh ) saya menenangkan anak saya dengan mengatakan gak apa-apa nak besok kita masak saja sendiri nanti Ara dan Anggi bantuin mama dan Bunda, saya terus berdoa minta Allah membimbing saya menghadapi masalah yang kelihatannya sepele tapi dampaknya luar biasa ini, saya juga terus menerus katarsis dengan melaporkan semua kejadian pada seorang teman (Thanks Mb Rini ) yang juga terus memberikan masukan positif pada saya. Alhamdulillah selesai ujian menari Anggi anak kakak saya mendatangi saya dan minta uang untuk urunan biaya ujian masak besok karena diminta oleh siibu yang marah tadi Alhamdulillah rupanya si ibu yang marah tadi berhasil dilembutkan hatinya oleh Allah sesuai doa saya. Alhamdulillah selesai sudah urusan ujian sekolah anak saya, saya bersyukur dan senyum-senyum sendiri mentertawai sikap bodoh saya yang mudah terpacing emosi, sampai rumah kira-kira menjelang sholat zuhur karena lelah saya tidur sebentar dengan fikirin akan bangun 1 jam kemudian untuk melakukan pertemuan dengan seorang teman, astagf ternyata jam 14.30 saya baru bangun dengan badan yang sangat lelah padahal tidak banyak pekerjaan fisik yang saya lakukan, saya tersadar ternyata kemarahan benar-benar menguras emosi saya pelajaran yang luar biasa Allah langsung memberikan saya medan untuk mencoba ilmu yang belum lama saya pelajari, mungkin besok-besok akan ada lagi hal yang akan menguji hati saya tapi paling tidak ujian hari ini Alhamdulillah meski tersandung-sandung berhasil saya lalui . Ya Allah tolong bimbing hatiku untuk menjadi lebih sabar dan ikhlas dalam menghadapi sesuatu…….
Di sini kita bisa saling berbagi Cerita seputar bahaya pornografi, diskusi dan berbagi informasi tentang permasalahan yang di timbulkan akibat pornografi, tips gimana caranya menghindari anak dan remaja dari bahaya pornografi Disini kita juga bisa bicara tt pengasuhan dan pendidikan anak mari berbagi :)
Entri Populer
-
Berdamai dengan hati Hari ini benar-benar hari yang melelahkan dan menguras energy saya. Menguras energy bukan dalam arti saya melakukan pek...
-
SHOPING ??? identik dengan keluar uang, bahkan kadang-kadang konotasinya juga negatif. Shoping disini jangan berfikir tawaf di mall :)), kel...
-
GAMBARU Oleh: Rouli Esther Pasaribu pada 14 Maret 2011 jam 12:02 Terus terang aja, satu kata yang bener2 bikin muak jiwa raga setelah tiba d...
-
Ditulis pada Oktober 5, 2008 oleh ade armando Seusai Ramadhan ini, DPR akan membicarakan kembali RUU Pornografi yang kontroversial. Ada ...
-
Menyedihkan di saat peringatan 100 thn KEBANGKITAN NASIONAL kenapa justru muncul film-film yang mengatasnamakan pendidikan seks (untuk siapa...
-
Bulan November kemarin saya membantu teman-teman dari sebuah LSM yang concern dengan permasalahan anak hadir dalam sebuah diskusi tentang RU...
-
Teman-teman pendukung UU pornografi pekerjaan belum selesai karena masih ada segelintir orang yang tidak menghendaki adanya UU PORNOGRAFI mo...
-
Video Game Bisa Bikin Gila? Fino Yurio Kristo - detikinet ilustrasi (ist) Taipei - Orang-orang yang menghabiskan waktu terlalu banyak bermai...
-
Begitu Ketua DPR Agung Lasono mengetuk palu tanda RUU Pornografi di sahkan gema takbir langsung berkumandang di balkon atas ruang sidang par...
-
Udah lama engga ngeblog karena seorang sahabat jadi pengen ngeblog lagi nih. alhamdulillah sekarang saya bergabung dengan sebuah komunitas y...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar