Berdamai dengan hati
Hari ini benar-benar hari yang melelahkan dan menguras energy saya. Menguras energy bukan dalam arti saya melakukan pekerjaan fisik yang berat tetapi justru psikis saya yang amburadul sehingga membuat saya sangat lelah.
Pagi hari seperti biasa saya bangun pk 04.30 melakukan berbagai aktivitas harian, tapi hari itu ada yang special anak saya yang tingkat akhir di Sekolah Dasar praktek menari yang sebenarnya jika di fikir dengan logika tidak masuk akal dan sedikit “gila”, disekolah tidak ada pelajaran menari dan anak-anak tidak pernah dilatih menari untuk ujian tapi anak-anak diminta ujian menari dengan membuat sendiri gerak tarinya, awalnya si bungsu ingin menari Bali seperti kakaknya, kakaknya yang saya tugasi mengajari adiknya mengeluh adiknya badannya kaku tidak bisa mengikuti gerakannya maklum kalau sang kakak cukup feminim dan suka hal yang berbau wanita seperti memasak, menari, sang adik justru kebalikannya lebih suka olahraga dari mulai main bola sepak, bulutangkis, basket dll. Sehari menjelang sang kakak berangkat karyawisata ke luar kota si adik belum juga bisa menguasai gerakan tari Bali yang diminta bahkan gerakan dasar padahal ujian tinggal tiga hari lagi, terpaksa saya ambil alih tari Bali diganti tari melayu dengan iringan lagu cindainya Siti nurhaliza alhasil saya menjadi koreografer tari dadakan, hal ini saja membuat saya tarik urat dengan bungsu saya ini, betapa tidak bungsu saya tetap ngotot minta tari Bali bahkan sampai menangis sudah saya jelaskan bahwa kakak akan pergi keluar kota mama tidak bisa mengajari Ara tari Bali gerakannya susah, anak saya tetap bertahan tidak mau, Alhamdulillah saya sudah mengikuti pelatihan Hyno heart parentingya pak Alpiyanto untuk menggunakan hati dan minta petujuk Allah dalam mengasuh anak hal inilah yang coba saya terapkan ke anak saya, Alhamdulillah menghadapi si bungsu ini saya jadi lebih sabar hati yang sudah panas karena kesal jerih payah saya jadi koreografer amatiran tidak dihargai bisa lebih sabar tangan yang biasanya suka jalan mencubit jika saya sudah benar-benar kesal saya pakai untuk memeluk tapi yang namanya ujian kok ya belum beres bungsu saya tidak mempan dengan elusan, pelukan dan bujukan
Akhirnya saya menyerah saya biarkan saja ia ngambek, saya nonton TV, entah kenapa tiba-tiba ada inspirasi untuk menawari anak saya tersebut nasi goreng, saya suruh sepupunya untuk menawari o lalala rupanya masih marah pada saya sang sepupu lapor Ara gak mau mah katanya gak perlu aku gak butuh aku gak lapar, mendengar jawaban tersebut Alhamdulillah saya masih bisa tertawa dan menyuruh si sepupu untuk membelikan saya ketoprak ketika saya sedang makan ketoprak si bungsu masuk kamar dan bilang sambil malu-malu mah aku mau ketoprak hehehe saya menanggapi dengan oke beli gi sana, alhasil sambil makan ketoprak anak saya ini bilang kalau sudah makan ketoprak ia mau latihan tari Cindai Alhamdulillah senangnya hati saya. Akhirnya malam itu sampai kira-kira jam 12 anak saya lenggak lenggok menirukan gerakan saya soi koreogrefer dadakan berlatih tari cindai dengan senyum di wajahnya.
Awalnya saya berfikir urusan tari-tarian ini sudah beres ternyata astagfirullah hal Adzim ada lagi yang menguji kesabaran saya, anak saya menginformasikan pada saya mah kata pak guru besok narinya harus pakai pakaian tari kalau mau sewa bisa sama pak guru, Ya Allah dalam hati saya ngobyek amat sih ni guru (menghakimi padahal engga boleh )
Alhamdulillah di rumah ada baju kurung jadi saya fikir okelah besok pakai baju kurung saja Alhamdulillah anak saya oke-oke saja, beda dengan si sepupu yang juga menari bersama anak saya yang sibuk mencoba baju kurung semua orang yang ada dalam rumah dari mulai baju kurung bundanya, budenya sampai baju kurung almarhum neneknya
Ternyata pagi hari kegiatan mendandani anak-anak sudah membuat tegangan emosi tinggi, kakak saya yang saya tugasi memake up wajah anak-anak ribut karena anak saya tidak mau memakai eye liner dibawah mata dengan alasan takut matanya “kecolok”, sementara kakak saya ngotot mata anak saya kecil jadi biar kelihatan “belo” saya yang sedang memasang konde di kepala anak kakak saya terpaksa turun tangan menengahi dulu putusannya tidak usah pakai eye liner, setelah acara berdandan selesai anak saya ngambek ngotot minta saya menemani dia menjalani ujian padahal rumah sudah seperti kapal pecah dengan barang-barang bekas anak-anak dandan yang berserakan tidak karuan, terpaksalah saya ganti baju berangkat menemani anak saya dengan hati yang dongkol.
Baru sampai halaman sekolah ujian datang lagi masyaAllah seorang ibu yang anaknya sekelas dengan anak saya datang lagi menagih uang masak yang jumlahnya puluhan ribu, saya Tanya masak apa untuk apa, dan siapa yang masak, astagfirullahhal Adzim satu lagi “kegilaan” (Menghakimi lagi deh maafkan saya ya Allah) ujian praktek masak pelajaran PLBJ (Pendidikan kehidupan lingkungan Jakarta), secara otomatis saya mengungkapkan kegalauan saya pada ibu ini “ gila ya kapan anak-anak diajarin masak kok tiba-tiba ada ujian masak”, rupanya ibu ini menangkapnya berbeda dia menganggap saya tidak percaya dengan dia dan mengatakan yang masak ibu-ibunya gak mungkin anak-anak di suruh masak kalau ibu tidak percaya besok datang ke rumah si fulan astagf salah lagi saya, saya diam saja menanggapi emosi si ibu dan memberikan uang seperti yang diminta, baru saja saya berjalan menghampiri anak saya datang lagi seorang ibu yang menagih bahwa anak saya untuk acara perpisahan baru bayar dua ratus ribu masih kurang duaratus ribu karena hari itu saya tidak membawa uang banyak saya jawab minggu depan saya bayar Alhamdulillah si ibu mnegerti, tiba-tiba lagi datang lagi seorang ibu yang berbeda dengan wajah yang merah padam menahan marah menghampiri saya dan mengatakan bu kata ibu-ibu yang lain anak ibu besok masak aja sendiri terus bawa sendiri nih uangnya dikembalikan, melihat kondisi tersebut saya berusaha menanggapi dengan berusaha keras untuk sabar padahal dalam hati rasanya sudah mau meledak saya menerima uang yang dikembalikan dengan mengatakan oh gitu oke tanpa banyak bicara saya tinggalkan ibu itu yang sepertinya siap tempur dengan saya karena saya sadar kalau lama saya dengan ibu itu saya bisa terlibat pertengkaran astagfirullah. Saya melihat ibu-ibu yang sekelas dengan anak saya bergerombol memandang sinis saya tapi saya berusaha berprasangka baik padahal dalam hati ingin rasanya mendekati ibu-ibu ini dan menanyakan ada apa ? apa saya salah kalau mengemukakan sedikit pendapat.
Tiba-tiba anak saya menghampiri saya dengan wajah sedih karena si ibu yang marah ini rupanya menyuruh anaknya untuk menginformasikan kepada anak saya dan sepupunya bahwa mereka sudah dikeluarkan dari kelompok dan disuruh masak sendiri astagfirullahhal adzim ada-ada saja, anak saya meneglu khawatir tidak lulus ujian ( Ya Allah apa ya yang sudah dicekoki si guru pada anak saya karena bawaanya anak saya sedikit-sedikit takut tidak lulus Astagf nuduh ) saya menenangkan anak saya dengan mengatakan gak apa-apa nak besok kita masak saja sendiri nanti Ara dan Anggi bantuin mama dan Bunda, saya terus berdoa minta Allah membimbing saya menghadapi masalah yang kelihatannya sepele tapi dampaknya luar biasa ini, saya juga terus menerus katarsis dengan melaporkan semua kejadian pada seorang teman (Thanks Mb Rini ) yang juga terus memberikan masukan positif pada saya. Alhamdulillah selesai ujian menari Anggi anak kakak saya mendatangi saya dan minta uang untuk urunan biaya ujian masak besok karena diminta oleh siibu yang marah tadi Alhamdulillah rupanya si ibu yang marah tadi berhasil dilembutkan hatinya oleh Allah sesuai doa saya. Alhamdulillah selesai sudah urusan ujian sekolah anak saya, saya bersyukur dan senyum-senyum sendiri mentertawai sikap bodoh saya yang mudah terpacing emosi, sampai rumah kira-kira menjelang sholat zuhur karena lelah saya tidur sebentar dengan fikirin akan bangun 1 jam kemudian untuk melakukan pertemuan dengan seorang teman, astagf ternyata jam 14.30 saya baru bangun dengan badan yang sangat lelah padahal tidak banyak pekerjaan fisik yang saya lakukan, saya tersadar ternyata kemarahan benar-benar menguras emosi saya pelajaran yang luar biasa Allah langsung memberikan saya medan untuk mencoba ilmu yang belum lama saya pelajari, mungkin besok-besok akan ada lagi hal yang akan menguji hati saya tapi paling tidak ujian hari ini Alhamdulillah meski tersandung-sandung berhasil saya lalui . Ya Allah tolong bimbing hatiku untuk menjadi lebih sabar dan ikhlas dalam menghadapi sesuatu…….
Di sini kita bisa saling berbagi Cerita seputar bahaya pornografi, diskusi dan berbagi informasi tentang permasalahan yang di timbulkan akibat pornografi, tips gimana caranya menghindari anak dan remaja dari bahaya pornografi Disini kita juga bisa bicara tt pengasuhan dan pendidikan anak mari berbagi :)
Entri Populer
-
Berdamai dengan hati Hari ini benar-benar hari yang melelahkan dan menguras energy saya. Menguras energy bukan dalam arti saya melakukan pek...
-
SHOPING ??? identik dengan keluar uang, bahkan kadang-kadang konotasinya juga negatif. Shoping disini jangan berfikir tawaf di mall :)), kel...
-
GAMBARU Oleh: Rouli Esther Pasaribu pada 14 Maret 2011 jam 12:02 Terus terang aja, satu kata yang bener2 bikin muak jiwa raga setelah tiba d...
-
Ditulis pada Oktober 5, 2008 oleh ade armando Seusai Ramadhan ini, DPR akan membicarakan kembali RUU Pornografi yang kontroversial. Ada ...
-
Menyedihkan di saat peringatan 100 thn KEBANGKITAN NASIONAL kenapa justru muncul film-film yang mengatasnamakan pendidikan seks (untuk siapa...
-
Bulan November kemarin saya membantu teman-teman dari sebuah LSM yang concern dengan permasalahan anak hadir dalam sebuah diskusi tentang RU...
-
Teman-teman pendukung UU pornografi pekerjaan belum selesai karena masih ada segelintir orang yang tidak menghendaki adanya UU PORNOGRAFI mo...
-
Video Game Bisa Bikin Gila? Fino Yurio Kristo - detikinet ilustrasi (ist) Taipei - Orang-orang yang menghabiskan waktu terlalu banyak bermai...
-
Begitu Ketua DPR Agung Lasono mengetuk palu tanda RUU Pornografi di sahkan gema takbir langsung berkumandang di balkon atas ruang sidang par...
-
Udah lama engga ngeblog karena seorang sahabat jadi pengen ngeblog lagi nih. alhamdulillah sekarang saya bergabung dengan sebuah komunitas y...
Selasa, 12 April 2011
Sabtu, 02 April 2011
BUKAN SEKEDAR SHOPING

SHOPING ??? identik dengan keluar uang, bahkan kadang-kadang konotasinya juga negatif. Shoping disini jangan berfikir tawaf di mall :)), keluar masuk toko belanja dengan tentengan dikiri dan kanan, keluar uang banyak, gesek credit card sana-sini :)) Shoping yang saya anjurkan kepada anda semua adalah shoping yang menguntungkan,dapat pahala dari Allah Swt, buat hati bahagia, anak dan suami bahagia InsyaAllah selamat dunia Akherat :)) InsyaAllah, kok bisa ?? emang ada? bukannya shoping bisa membuat bangkrut ? gimana caranya?
Istilah shoping ini saya dapat dari seorang sahabat, awalnya juga engga kefikiran sampai situ tapi setelah tahu jadi senyum-senyum sambil mikir iya yahhhhh bener juga dalam hati saya membatin.
Shoping yang saya maksud disini adalah belanja ilmu, ilmu apa?? ya ilmu macam-macam sesuai dengan kebutuhan kita. Dimana belanjanya??? bisa dimana saja yang penting siapkan waktu untuk shoping ini, siapkan waktu untuk baca buku, browsing lewat internet (jd pakai internet tdk cuma untuk Fban atau twiteran aja:), ikuti berbagai seminar dan pelatihan, hadiri majelis-majelis ilmu yang kita anggap penting, yang perlu diingat habis belajar jangan numpang kewat aja tapi kita coba terapkan :))
Coba fikir hal ini sama saja kan dengan shoping?? untuk browsing, ikut seminar, pelat & beli buku perlu uang, entah itu untuk transport ke tempat pelatihan (meski pelatnya & seminarnya gratis:), browsing di HP butuh uang untuk pulsa, lewat internet juga ada biaya yang harus dikeluarkan yang pasti itu tadi yg saya bilang diatas shoping ini Insyaallah bisa membuat hati bahagia, dapat pahala Allah SWT, InsyaAllah selamat dunia dan akherat, dan InsyaAllah tidak akan hilang dan habis dimakan usia karena meskipun kita sudah meninggalkan dunia ini selama ilmu kita masih dipakai InsyaaAllah amalnya jalan terus, contoh shoping sepotong baju, jilbab, sepatu dll, nyari satu barang aja pakaian misalnya paling tidak keluar masuk dua atau tiga toko, itu makan waktu paling tidak satu jam belum jalan ke tokonya yang pastinya juga butuh waktu minimal 20 atau 30 menit ada juga yang lebih karena ada teman saya tinggal di Rangkas Bitung kalu belanja di Tanah Abang padahal cuma beli jilbab atau baju satu dua potong, perjalananya dari rangkas ke Tanah Abang dengan kereta api 3 jam sekali jalan belum pulangnya , kemudian barang yang dibeli dipakainya paling lama tahan dua tahun karena biasanya kalu ada yg baru yang lama udah engga dipakai lagi, padahal jika shoping ilmu dijamin garansinya tidak terbatas dan InsyaAllah terpakai terus.
TAPI saya nulis ini bukan berarti saya melarang anda semua untuk shoping Lohhhh!!!karena saya juga suka shoping :), saya hanya ingin mempopulerkan istilah shoping untuk menggantikan istilah belajar, karena pengalaman jika teman-teman saya saya ajak untuk belajar jawabannya gak ada waktu, belum sempat dll, tapi begitu saya bilang temenin belanja dong mau nyari jilbab dll rata-rata tdk ada yang menolak :)) jadi mulai sekarang kita shoping yuuuk!! shoping ilmu maksudnya:)))
GAMBARU
GAMBARU
Oleh: Rouli Esther Pasaribu pada 14 Maret 2011 jam 12:02
Terus terang aja, satu kata yang bener2 bikin muak jiwa raga setelah tiba di Jepang dua tahun lalu adalah : GAMBARU, alias berjuang mati-matian sampai titik darah penghabisan.
Muak abis, sumpah, karena tiap kali bimbingan sama prof, kata-kata penutup selalu : motto gambattekudasai (ayo berjuang lebih lagi), taihen dakedo, isshoni gambarimashoo (saya tau ini sulit, tapi ayo berjuang bersama-sama), motto motto kenkyuu shitekudasai (ayo bikin penelitian lebih dan lebih lagi). Sampai gw rasanya pingin ngomong, apa ngga ada kosa kata lain selain GAMBARU? Apaan kek gitu, yang penting bukan gambaru. Gambaru itu bukan hanya sekadar berjuang2 cemen gitu2 aja yang kalo males atau ada banyak rintangan, ya udahlah ya...berhenti aja.
Menurut kamus bahasa Jepang sih, gambaru itu artinya : "doko made mo nintai shite doryoku suru" (bertahan sampai kemana pun juga dan berusaha abis-abisan) Gambaru itu sendiri, terdiri dari dua karakter yaitu karakter "keras" dan "mengencangkan". Jadi image yang bisa didapat dari paduan karakter ini adalah "mau sesusah apapun itu persoalan yang dihadapi, kita mesti keras dan terus mengencangkan diri sendiri, agar kita bisa menang atas persoalan itu" (maksudnya jangan manja, tapi anggap semua persoalan itu adalah sebuah kewajaran dalam hidup, namanya hidup emang pada dasarnya susah, jadi jangan ngarep gampang, persoalan hidup hanya bisa dihadapi dengan gambaru, titik.).
Terus terang aja, dua tahun gw di Jepang, dua tahun juga gw ngga ngerti, kenapa orang2 Jepang ini menjadikan gambaru sebagai falsafah hidupnya. Bahkan anak umur 3 tahun kayak Joanna pun udah disuruh gambaru di sekolahnya, kayak pake baju di musim dingin mesti yang tipis2 biar ngga manja terhadap cuaca dingin, di dalam sekolah ngga boleh pakai kaos kaki karena kalo telapak kaki langsung kena lantai itu baik untuk kesehatan, sakit2 dikit cuma ingus meler2 atau demam 37 derajat mah, ngga usah bolos sekolah, tetap dihimbau masuk dari pagi sampai sore, dengan alasan, anak akan kuat menghadapi penyakit jika ia melawan penyakitnya itu sendiri. Akibatnya, kalo naik sepeda di tanjakan sambil bonceng Joanna, dan gw ngos2an kecapean, otomatis Joanna ngomong : Mama, gambare! Mama faitoooo! (mama ayo berjuang, mama ayo fight!).Pokoknya jangan manja sama masalah deh, gambaru sampe titik darah penghabisan, it's a must!
Gw bener2 baru mulai sedikit mengerti mengapa gambaru ini penting banget dalam hidup, adalah setelah terjadi tsunami dan gempa bumi dengan kekuatan 9.0 di Jepang bagian timur. Gw tau, bencana alam di Indonesia seperti tsunami di aceh, nias dan sekitarnya, gempa bumi di padang, letusan gunung merapi....juga bukanlah hal yang gampang untuk dihadapi.
Tapi, tsunami dan gempa bumi di jepang kali ini, jauuuuuh lebih parah dari semuanya itu. Bahkan, ini adalah gempa bumi dan tsunami terparah dan terbesar di dunia. Wajaaaaaaar banget kalo kemudian pemerintah dan masyarakat Jepang panik kebingungan karena bencana ini. Wajaaaaar banget kalo mereka kemudian mulai ngerasa galau, nangis2, ga tau mesti ngapain.Bahkan untuk skala bencana sebesar ini, rasanya bisa "dimaafkan" jika stasiun-stasiun TV memasang sedikit musik latar ala lagu-lagu Ebiet dan membuat video klip tangisan anak negeri yang berisi wajah-wajah korban bencana yang penuh kepiluan dan tatapan kosong tak punya harapan. bagaimana tidak, tsunami dan gempa bumi ini benar-benar menyapu habis seluruh kehidupan yang mereka miliki. Sangat wajar jika kemudian mereka tidak punya harapan.
Tapi apa yang terjadi pasca bencana mengerikan ini? Dari hari pertama bencana, gw nyetel TV dan nungguin lagu-lagu ala Ebiet diputar di stasiun TV. Nyari-nyari juga di mana rekening dompet bencana alam. Video klip tangisan anak negeri juga gw tunggu2in. Tiga unsur itu (lagu ala Ebiet, rekening dompet bencana, video klip tangisan anak negeri), sama sekali ngga disiarkan di TV.
Jadi yang ada apaan dong? Ini yang gw lihat di stasiun2 TV :
(1). Peringatan pemerintah agar setiap warga tetap waspada.
(2). Himbauan pemerintah agar seluruh warga jepang bahu membahu menghadapi bencana (termasuk permintaan untuk menghemat listrik agar warga di wilayah tokyo dan tohoku ngga lama-lama terkena mati lampu)
(3). Permintaan maaf dari pemerintah karena terpaksa harus melakukan pemadaman listrik terencana.
(4). Tips-tips menghadapi bencana alam
(5). nomor telepon call centre bencana alam yang bisa dihubungi 24 jam
(6). Pengiriman tim SAR dari setiap perfektur menuju daerah-daerah yang terkena bencana
(7). Potret warga dan pemerintah yang bahu membahu menyelamatkan warga yang terkena bencana (sumpah sigap banget, nyawa di jepang benar-benar bernilai banget harganya)
(8). Pengobaran semangat dari pemerintah yang dibawakan dengan gaya tenang dan tidak emosional : mari berjuang sama-sama menghadapi bencana, mari kita hadapi (government official pake kata norikoeru, yang kalo diterjemahkan secara harafiah : menaiki dan melewati) dengan sepenuh hati
(9). Potret para warga yang terkena bencana, yang saling menyemangati :*ada yang nyari istrinya, belum ketemu2, mukanya udah galau banget, tapi tetap tenang dan ngga emosional, disemangati nenek2 yang ada di tempat pengungsian : gambatte sagasoo! kitto mitsukaru kara. Akiramenai de (ayo kita berjuang cari istri kamu. Pasti ketemu. Jangan menyerah)
*Tulisan di twitter : ini gempa terbesar sepanjang sejarah. Karena itu, kita mesti memberikan usaha dan cinta terbesar untuk dapat melewati bencana ini; Gelap sekali di Sendai, lalu ada satu titik bintang terlihat terang. Itu bintang yang sangat indah. Warga Sendai, lihatlah ke atas.
Sebagai orang Indonesia yang tidak pernah melihat cara penanganan bencana ala gambaru kayak gini, gw bener-bener merasa malu dan di saat yang bersamaan : kagum dan hormat banget sama warga dan pemerintah Jepang. Ini negeri yang luar biasa, negeri yang sumber daya alamnya terbatas banget, negeri yang alamnya keras, tapi bisa maju luar biasa dan punya mental sekuat baja, karena : falsafah gambaru-nya itu.
Bisa dibilang, orang-orang Jepang ini ngga punya apa-apa selain GAMBARU. Dan, gambaru udah lebih dari cukup untuk menghadapi segala persoalan dalam hidup. Bener banget, kita mesti berdoa, kita mesti pasrah sama Tuhan. Hanya, mental yang apa-apa "nyalahin" Tuhan, bilang2 ini semua kehendakNya, Tuhan marah pada umatNya, Tuhan marah melalui alam maka tanyalah pada rumput yang bergoyang.....I guarantee you 100% selama masih mental ini yang berdiam di dalam diri kita, sampai kiamat sekalipun, gw rasa bangsa kita ngga akan bisa maju.
Kalau ditilik lebih jauh, "menyalahkan" Tuhan atas semua bencana dan persoalan hidup, sebenarnya adalah kata lain dari ngga berani bertanggungjawab terhadap hidup yang dianugerahkan Sang Pemilik Hidup. Jika diperjelas lagi, ngga berani bertanggungjawab itu maksudnya : lari dari masalah, ngga mau ngadepin masalah, main salah2an, ngga mau berjuang dan baru ketemu sedikit rintangan aja udah nangis manja.
Kira-kira setahun yang lalu, ada sanak keluarga yang mempertanyakan, untuk apa gw menuntut ilmu di Jepang. Ngapain ke Jepang, ngga ada gunanya, kalo mau S2 atau S3 mah, ya di Eropa atau Amerika sekalian, kalo di Jepang mah nanggung. Begitulah kata beliau. Sempat terpikir juga akan perkataannya itu, iya ya, kalo mau go international ya mestinya ke Amrik atau Eropa sekalian, bukannya Jepang ini. Toh sama-sama Asia, negeri kecil pula dan kalo gak bisa bahasa Jepang, nggak akan bisa survive di sini. Sampai sempat nyesal juga,kenapa gw ngedaleminnya sastra Jepang dan bukan sastra Inggris atau sastra barat lainnya. Tapi sekarang, gw bisa bilang dengan yakin sama sanak keluarga yang menyatakan nggak ada gunanya gw nuntut ilmu di Jepang.
Pernyataan beliau adalah salah sepenuhnya. Mental gambaru itu yang paling megang adalah Jepang. Dan menjadikan mental gambaru sebagai way of life adalah lebih berharga daripada go international dan sejenisnya itu. Benar, sastra Jepang, gender dan sejenisnya itu, bisa dipelajari di mana saja. Tapi, semangat juang dan mental untuk tetap berjuang abis-abisan biar udah nggak ada jalan, gw rasa, salah satu tempat yang ideal untuk memahami semua itu adalah di Jepang. Dan gw bersyukur ada di sini, saat ini.
Maka, mulai hari ini, jika gw mendengar kata gambaru, entah di kampus, di mall, di iklan-iklan TV, di supermarket, di sekolahnya Joanna atau di mana pun itu, gw nggak akan lagi merasa muak jiwa raga. Sebaliknya, gw akan berucap dengan rendah hati : Indonesia jin no watashi ni gambaru no seishin to imi wo oshietekudasatte, kokoro kara kansha itashimasu. Nihon jin no minasan no yoo ni, gambaru seishin wo mi ni tsukeraremasu yoo ni, hibi gambatteikitai to omoimasu. (Saya ucapkan terima kasih dari dasar hati saya karena telah mengajarkan arti dan mental gambaru bagi saya, seorang Indonesia. Saya akan berjuang tiap hari, agar mental gambaru merasuk dalam diri saya, seperti kalian semuanya, orang-orang Jepang). Say YES to GAMBARU!
Oleh: Rouli Esther Pasaribu pada 14 Maret 2011 jam 12:02
Terus terang aja, satu kata yang bener2 bikin muak jiwa raga setelah tiba di Jepang dua tahun lalu adalah : GAMBARU, alias berjuang mati-matian sampai titik darah penghabisan.
Muak abis, sumpah, karena tiap kali bimbingan sama prof, kata-kata penutup selalu : motto gambattekudasai (ayo berjuang lebih lagi), taihen dakedo, isshoni gambarimashoo (saya tau ini sulit, tapi ayo berjuang bersama-sama), motto motto kenkyuu shitekudasai (ayo bikin penelitian lebih dan lebih lagi). Sampai gw rasanya pingin ngomong, apa ngga ada kosa kata lain selain GAMBARU? Apaan kek gitu, yang penting bukan gambaru. Gambaru itu bukan hanya sekadar berjuang2 cemen gitu2 aja yang kalo males atau ada banyak rintangan, ya udahlah ya...berhenti aja.
Menurut kamus bahasa Jepang sih, gambaru itu artinya : "doko made mo nintai shite doryoku suru" (bertahan sampai kemana pun juga dan berusaha abis-abisan) Gambaru itu sendiri, terdiri dari dua karakter yaitu karakter "keras" dan "mengencangkan". Jadi image yang bisa didapat dari paduan karakter ini adalah "mau sesusah apapun itu persoalan yang dihadapi, kita mesti keras dan terus mengencangkan diri sendiri, agar kita bisa menang atas persoalan itu" (maksudnya jangan manja, tapi anggap semua persoalan itu adalah sebuah kewajaran dalam hidup, namanya hidup emang pada dasarnya susah, jadi jangan ngarep gampang, persoalan hidup hanya bisa dihadapi dengan gambaru, titik.).
Terus terang aja, dua tahun gw di Jepang, dua tahun juga gw ngga ngerti, kenapa orang2 Jepang ini menjadikan gambaru sebagai falsafah hidupnya. Bahkan anak umur 3 tahun kayak Joanna pun udah disuruh gambaru di sekolahnya, kayak pake baju di musim dingin mesti yang tipis2 biar ngga manja terhadap cuaca dingin, di dalam sekolah ngga boleh pakai kaos kaki karena kalo telapak kaki langsung kena lantai itu baik untuk kesehatan, sakit2 dikit cuma ingus meler2 atau demam 37 derajat mah, ngga usah bolos sekolah, tetap dihimbau masuk dari pagi sampai sore, dengan alasan, anak akan kuat menghadapi penyakit jika ia melawan penyakitnya itu sendiri. Akibatnya, kalo naik sepeda di tanjakan sambil bonceng Joanna, dan gw ngos2an kecapean, otomatis Joanna ngomong : Mama, gambare! Mama faitoooo! (mama ayo berjuang, mama ayo fight!).Pokoknya jangan manja sama masalah deh, gambaru sampe titik darah penghabisan, it's a must!
Gw bener2 baru mulai sedikit mengerti mengapa gambaru ini penting banget dalam hidup, adalah setelah terjadi tsunami dan gempa bumi dengan kekuatan 9.0 di Jepang bagian timur. Gw tau, bencana alam di Indonesia seperti tsunami di aceh, nias dan sekitarnya, gempa bumi di padang, letusan gunung merapi....juga bukanlah hal yang gampang untuk dihadapi.
Tapi, tsunami dan gempa bumi di jepang kali ini, jauuuuuh lebih parah dari semuanya itu. Bahkan, ini adalah gempa bumi dan tsunami terparah dan terbesar di dunia. Wajaaaaaaar banget kalo kemudian pemerintah dan masyarakat Jepang panik kebingungan karena bencana ini. Wajaaaaar banget kalo mereka kemudian mulai ngerasa galau, nangis2, ga tau mesti ngapain.Bahkan untuk skala bencana sebesar ini, rasanya bisa "dimaafkan" jika stasiun-stasiun TV memasang sedikit musik latar ala lagu-lagu Ebiet dan membuat video klip tangisan anak negeri yang berisi wajah-wajah korban bencana yang penuh kepiluan dan tatapan kosong tak punya harapan. bagaimana tidak, tsunami dan gempa bumi ini benar-benar menyapu habis seluruh kehidupan yang mereka miliki. Sangat wajar jika kemudian mereka tidak punya harapan.
Tapi apa yang terjadi pasca bencana mengerikan ini? Dari hari pertama bencana, gw nyetel TV dan nungguin lagu-lagu ala Ebiet diputar di stasiun TV. Nyari-nyari juga di mana rekening dompet bencana alam. Video klip tangisan anak negeri juga gw tunggu2in. Tiga unsur itu (lagu ala Ebiet, rekening dompet bencana, video klip tangisan anak negeri), sama sekali ngga disiarkan di TV.
Jadi yang ada apaan dong? Ini yang gw lihat di stasiun2 TV :
(1). Peringatan pemerintah agar setiap warga tetap waspada.
(2). Himbauan pemerintah agar seluruh warga jepang bahu membahu menghadapi bencana (termasuk permintaan untuk menghemat listrik agar warga di wilayah tokyo dan tohoku ngga lama-lama terkena mati lampu)
(3). Permintaan maaf dari pemerintah karena terpaksa harus melakukan pemadaman listrik terencana.
(4). Tips-tips menghadapi bencana alam
(5). nomor telepon call centre bencana alam yang bisa dihubungi 24 jam
(6). Pengiriman tim SAR dari setiap perfektur menuju daerah-daerah yang terkena bencana
(7). Potret warga dan pemerintah yang bahu membahu menyelamatkan warga yang terkena bencana (sumpah sigap banget, nyawa di jepang benar-benar bernilai banget harganya)
(8). Pengobaran semangat dari pemerintah yang dibawakan dengan gaya tenang dan tidak emosional : mari berjuang sama-sama menghadapi bencana, mari kita hadapi (government official pake kata norikoeru, yang kalo diterjemahkan secara harafiah : menaiki dan melewati) dengan sepenuh hati
(9). Potret para warga yang terkena bencana, yang saling menyemangati :*ada yang nyari istrinya, belum ketemu2, mukanya udah galau banget, tapi tetap tenang dan ngga emosional, disemangati nenek2 yang ada di tempat pengungsian : gambatte sagasoo! kitto mitsukaru kara. Akiramenai de (ayo kita berjuang cari istri kamu. Pasti ketemu. Jangan menyerah)
*Tulisan di twitter : ini gempa terbesar sepanjang sejarah. Karena itu, kita mesti memberikan usaha dan cinta terbesar untuk dapat melewati bencana ini; Gelap sekali di Sendai, lalu ada satu titik bintang terlihat terang. Itu bintang yang sangat indah. Warga Sendai, lihatlah ke atas.
Sebagai orang Indonesia yang tidak pernah melihat cara penanganan bencana ala gambaru kayak gini, gw bener-bener merasa malu dan di saat yang bersamaan : kagum dan hormat banget sama warga dan pemerintah Jepang. Ini negeri yang luar biasa, negeri yang sumber daya alamnya terbatas banget, negeri yang alamnya keras, tapi bisa maju luar biasa dan punya mental sekuat baja, karena : falsafah gambaru-nya itu.
Bisa dibilang, orang-orang Jepang ini ngga punya apa-apa selain GAMBARU. Dan, gambaru udah lebih dari cukup untuk menghadapi segala persoalan dalam hidup. Bener banget, kita mesti berdoa, kita mesti pasrah sama Tuhan. Hanya, mental yang apa-apa "nyalahin" Tuhan, bilang2 ini semua kehendakNya, Tuhan marah pada umatNya, Tuhan marah melalui alam maka tanyalah pada rumput yang bergoyang.....I guarantee you 100% selama masih mental ini yang berdiam di dalam diri kita, sampai kiamat sekalipun, gw rasa bangsa kita ngga akan bisa maju.
Kalau ditilik lebih jauh, "menyalahkan" Tuhan atas semua bencana dan persoalan hidup, sebenarnya adalah kata lain dari ngga berani bertanggungjawab terhadap hidup yang dianugerahkan Sang Pemilik Hidup. Jika diperjelas lagi, ngga berani bertanggungjawab itu maksudnya : lari dari masalah, ngga mau ngadepin masalah, main salah2an, ngga mau berjuang dan baru ketemu sedikit rintangan aja udah nangis manja.
Kira-kira setahun yang lalu, ada sanak keluarga yang mempertanyakan, untuk apa gw menuntut ilmu di Jepang. Ngapain ke Jepang, ngga ada gunanya, kalo mau S2 atau S3 mah, ya di Eropa atau Amerika sekalian, kalo di Jepang mah nanggung. Begitulah kata beliau. Sempat terpikir juga akan perkataannya itu, iya ya, kalo mau go international ya mestinya ke Amrik atau Eropa sekalian, bukannya Jepang ini. Toh sama-sama Asia, negeri kecil pula dan kalo gak bisa bahasa Jepang, nggak akan bisa survive di sini. Sampai sempat nyesal juga,kenapa gw ngedaleminnya sastra Jepang dan bukan sastra Inggris atau sastra barat lainnya. Tapi sekarang, gw bisa bilang dengan yakin sama sanak keluarga yang menyatakan nggak ada gunanya gw nuntut ilmu di Jepang.
Pernyataan beliau adalah salah sepenuhnya. Mental gambaru itu yang paling megang adalah Jepang. Dan menjadikan mental gambaru sebagai way of life adalah lebih berharga daripada go international dan sejenisnya itu. Benar, sastra Jepang, gender dan sejenisnya itu, bisa dipelajari di mana saja. Tapi, semangat juang dan mental untuk tetap berjuang abis-abisan biar udah nggak ada jalan, gw rasa, salah satu tempat yang ideal untuk memahami semua itu adalah di Jepang. Dan gw bersyukur ada di sini, saat ini.
Maka, mulai hari ini, jika gw mendengar kata gambaru, entah di kampus, di mall, di iklan-iklan TV, di supermarket, di sekolahnya Joanna atau di mana pun itu, gw nggak akan lagi merasa muak jiwa raga. Sebaliknya, gw akan berucap dengan rendah hati : Indonesia jin no watashi ni gambaru no seishin to imi wo oshietekudasatte, kokoro kara kansha itashimasu. Nihon jin no minasan no yoo ni, gambaru seishin wo mi ni tsukeraremasu yoo ni, hibi gambatteikitai to omoimasu. (Saya ucapkan terima kasih dari dasar hati saya karena telah mengajarkan arti dan mental gambaru bagi saya, seorang Indonesia. Saya akan berjuang tiap hari, agar mental gambaru merasuk dalam diri saya, seperti kalian semuanya, orang-orang Jepang). Say YES to GAMBARU!
Langganan:
Komentar (Atom)